[ Minggu, 14 Juni 2009 ]
JAKARTA - Dua fasilitas bahan bakar di dua kota dilalap api kemarin (13/6). Di Makassar, Depot Pengisian LPG Region V Pertamina meledak dan terbakar sekitar pukul 09.05 Wita. Dalam kejadian itu, satu orang tewas dan tiga terluka. Di Jakarta Timur, sebuah pangkalan minyak tanah dan oli bekas di Cililitan juga diamuk si jago merah. Tiga orang tewas dalam peristiwa yang terjadi sekitar pukul 12.00 WIB itu.
Korban tewas di Makassar adalah Najamuddin alias Maja, 40, sopir tangki PT Permata Alam Sulawesi (PAS). Sedangkan tiga korban luka bakar adalah Idris, 44; Muhammad Jufri, 43; dan Siswono, 36. Mereka saat ini dirawat di RSAL Jala Ammari, Makassar. Idris bekerja sebagai operator pengisian elpiji, Siswono karyawan bagian pengisian gas, dan Jufri pengemudi truk tangki.
Menurut Idris, kejadian itu bermula saat dilakukan pengisian gas ke truk elpiji yang dikemudikan Jufri. Saat itu, pemasangan alat sudah benar. Namun, truk tangki yang mesinnya tidak dimatikan tersebut mendadak mundur karena bannya tak diganjal. Truk itu lalu menggilas pipa pengisian gas sehingga timbul percikan api.
Beberapa saat kemudian, terdengar ledakan dan api semakin membesar. ”Saat itu saya dalam posisi menghadap mobil dan membelakangi depot. Saya tidak tahu dari mana tiba-tiba muncul api. Untung, saya bisa cepat menghindar meski sempat terbakar,” ujarnya.
Sebelum peristiwa itu, lanjutnya, pengisian elpiji ke truk tangki baru lima persen dari total empat ton per mobil. Pengisian elpiji ke satu truk tangki umumnya memakan waktu setengah jam. Di antara beberapa sopir truk tangki yang berada di TKP, hanya Najamuddin yang tidak sempat menyelamatkan diri.
Api berhasil dipadamkan sekitar pukul 11.30 Wita, setelah Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Pemkot Makassar mengerahkan 24 unit mobil pemadam. Humas Depot LPG Region V Pertamina Makassar Rosinah Nurdin menyatakan belum bisa menyebut besar kerugian akibat kebakaran tersebut. ”Masih diselidiki. Kerugian belum bisa ditaksir,” jelasnya.
Sementara itu, kebakaran yang menghanguskan pangkalan minyak tanah dan oli bekas di Cililitan, Jakarta Timur, diduga akibat kompor minyak tanah di dapur meledak. ”Api berasal dari dapur. Tidak ada setengah jam, api langsung menjalar ke depan dan terdengar suara ledakan-ledakan,” terang Ridho, saksi mata yang melihat kejadian itu.
Tiga korban tewas adalah Supriyono, 55; Taridin, 35; dan Karsito, 45. Supriyono diketahui sedang sakit dan tidur di dalam kamar. Kedua temannya, Taridin dan Karsito, mungkin berusaha menyelamatkan, tapi malah menjadi korban. Ketiga korban tewas ditemukan di kios fotokopi yang ikut terbakar lantaran berdempetan dengan pangkalan minyak tanah.
Kepala Peleton VII Suku Dinas Kebakaran Jakarta Timur Gatot mengatakan, ketika ditemukan, ketiga korban berdekatan dengan wajah dan tubuh sulit dikenali karena gosong. Oleh kepolisian, ketiga jasad korban itu dievakuasi ke RS Polri Kramat Jati untuk diotopsi. Selain kios fotokopi yang berimpitan dengan pangkalan minyak tanah, tiga rumah penduduk juga ikut terjilat api. Sekitar pukul 15.00, api sudah dapat dipadamkan.
Keisin, 60, pemilik pangkalan minyak tanah, mengatakan bahwa kerugian yang dialami sekitar Rp 500 juta. Sedangkan tiga rumah penduduk plus satu kios fotokopi yang terbakar ditaksir menelan kerugian Rp 200 juta.
Perlu Investigasi
Kebakaran depot Pertamina, tampaknya, selalu menjadi pemanas menjelang agenda rapat umum pemegang saham (RUPS). Seperti halnya kebakaran Depot Plumpang di Jakarta Utara yang terjadi menjelang RUPS saat Pertamina dipimpin Ari Soemarno, kebakaran depot Pertamina di Makassar juga terjadi dua hari menjelang RUPS Pertamina Senin besok (15/6). Kebetulan pula, saat ini ada desakan agar pimpinan Pertamina dirombak.
Vice President Komunikasi Pertamina Basuki Trikora Putra mengatakan, memang beredar kabar yang kemudian mengait-ngaitkan kebakaran yang menelan korban satu orang meninggal di Makassar dengan upaya menggoyang posisi direksi pada RUPS. ”Tapi, perlu kami tegaskan, kejadian ini kecelakaan murni, tidak terkait RUPS,” ujarnya tadi malam.
Menurut Trikora, agenda RUPS besok hanya membahas kinerja perseroan tahun buku 2008. ”Sesuai undangan RUPS yang diterima, agendanya hanya pembahasan kinerja 2008. Tidak ada agenda lain (pergantian direksi/komisaris),” katanya.
Kecelakaan yang terjadi di depot Pertamina, lanjut Trikora, merupakan hal yang bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Sebab, industri sektor migas memang bersifat high risk. ”Karena itu, yang dilakukan Pertamina adalah memperbaiki kinerja dan standar keselamatan kerja agar hal-hal seperti itu tidak terulang di kemudian hari,” terangnya.
Terkait kondisi di Makassar setelah kebakaran depot, Trikora mengatakan, sejak pukul 17.00 Wita kemarin, penyaluran BBM di Makassar sudah lancar. Penyaluran elpiji juga sudah normal dengan disalurkannya 71 metrik ton melalui dua stasiun pengisian bahan bakar elpiji (SPBBE). ”Intinya, penyaluran BBM dan elpiji sudah tidak ada masalah,” tegasnya.
Anggota Komisi VII DPR Alvin Lie menilai, Pertamina tidak belajar dari peristiwa kebakaran di Depot Plumpang beberapa bulan lalu. ”Perlu diinvestigasi apakah ada kesalahan manusia, kesalahan sistem, atau kombinasi kesalahan sistem dan manusia,” ujar Alvin di Pekanbaru kemarin (13/6).
Hal itu perlu diinvestigasi karena besok Pertamina melaksanakan RUPS guna mengevaluasi kinerja direksi. Bisa jadi, kebakaran tersebut sebagai upaya menyingkirkan Dirut Pertamina Karen Agustiawan yang menolak menyetorkan dana perseroan kepada tim kampanye salah satu calon presiden. ”Seperti kecelakaan pesawat, apakah kita harus menyalahkan presiden sebagai panglima tertinggi TNI,” katanya. (noe/owi/jpnn/oki)